Mengenal Tradisi Lebaran di Pacitan, Ada Prepegan hingga Lebaran Ketupat
Mulai dari tradisi prepegan atau belanja besar-besaran menjelang Lebaran di pasar tradisional, mudik para perantau, hingga ziarah kubur dan perayaan Lebaran Ketupat seminggu setelah Idulfitri.
PACITAN – Tradisi Lebaran di Kabupaten Pacitan pada tahun 2026 ini masih kuat diwarnai kebiasaan khas masyarakat lokal.
Mulai dari tradisi prepegan atau belanja besar-besaran menjelang Lebaran di pasar tradisional, mudik para perantau, hingga ziarah kubur dan perayaan Lebaran Ketupat seminggu setelah Idulfitri.
Suasana paling terasa biasanya terjadi dua hari menjelang Lebaran. Warga berbondong-bondong memadati pasar tradisional dalam tradisi yang dikenal sebagai prepegan.
Pasar Arjosari dan Pasar Minulyo menjadi dua titik yang paling ramai. Jalan di sekitar pasar kerap macet karena padatnya pembeli yang berburu kebutuhan Lebaran.
Di momen itu, warga biasanya membeli berbagai perlengkapan. Mulai dari pakaian baru, bahan makanan, hingga kebutuhan dapur untuk hidangan hari raya. Meski kondisi pasar sering sesak, antusiasme warga tetap tinggi.
Selain prepegan, masyarakat Pacitan juga memiliki tradisi membuat kue apem. Kue berbahan dasar tepung beras ini lazim dibuat menjelang Ramadan maupun menjelang Lebaran.
Dalam tradisi Jawa, apem dimaknai sebagai simbol permohonan maaf. Biasanya kue tersebut dibagikan kepada tetangga atau kerabat.
Tradisi tersebut masih berkaitan dengan budaya megengan, yakni kebiasaan masyarakat menyambut datangnya bulan suci Ramadan.
Di sejumlah desa, warga berkumpul dan saling berbagi makanan sebagai tanda syukur sekaligus mempererat hubungan sosial.
Lebaran di Pacitan juga identik dengan arus mudik para perantau. Banyak warga yang bekerja di luar daerah memilih pulang kampung untuk merayakan Idulfitri bersama keluarga.
Setelah salat Id, mereka biasanya melakukan sowan atau berkunjung ke rumah orang tua, tetangga, dan kerabat.
Kebiasaan lain yang tak pernah ditinggalkan adalah ziarah kubur. Warga datang ke makam keluarga untuk mendoakan leluhur. Kegiatan ini umumnya dilakukan sebelum Lebaran atau setelah hari raya.
Sepekan setelah Idulfitri, masyarakat Pacitan kembali merayakan tradisi Lebaran Ketupat atau Syawalan. Warga membuat ketupat lengkap dengan sayur santan, lalu menikmatinya bersama keluarga maupun tetangga.
Berbagai tradisi tersebut membuat suasana Lebaran di Pacitan terasa khas. Selain menjadi momen ibadah, hari raya juga menjadi ruang mempererat hubungan keluarga dan masyarakat. (*)
Simak breaking news dan berita pilihan TIMES Indonesia langsung dari WhatsApp-mu! Klik 👉 Channel TIMES Indonesia. Pastikan WhatsApp kamu sudah terpasang.



