https://banten.times.co.id/
Ekonomi

Mengenal Sistem Pertanian Tumpang Sari dan Kerajinan Tenun Khas Badui

Jumat, 16 Januari 2026 - 22:07
Mengintip Geliat Ekonomi Masyarakat Badui dari Ladang hingga Tenun Seorang perajin kain tenun masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak tengah dipasarkan di balai rumah menunggu kunjungan wisatawan. (Foto: ANTARA/Mansur)

TIMES BANTEN, LEBAK – Sektor pertanian ladang dengan metode tumpang sari serta kerajinan kain tenun tetap menjadi tumpuan utama perekonomian warga Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten. Hal ini ditegaskan oleh Tetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, saat menyambut kegiatan Kemah Budaya Wartawan dalam rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026.

"Kita sejak dulu ekonomi masyarakat Badui dari bercocok tanam dan perajin penenun," ungkap Jaro Oom di Lebak, Jumat (16/1/2026).

Kehidupan ekonomi di Badui dicirikan oleh pembagian peran yang harmonis sesuai tradisi leluhur. Kaum pria Badui bertanggung jawab mengelola lahan darat dengan sistem tumpang sari. Mereka menanam berbagai komoditas mulai dari padi gogo, jagung, sayur-mayur, palawija, hingga tanaman obat seperti jahe dan kencur dengan masa panen yang beragam.

Sementara itu, para perempuan Badui berperan sebagai perajin kain tenun dan aksesori. Aktivitas menenun ini dilakukan secara tradisional di balai-balai rumah mereka sendiri.

"Kami membina perajin kain tenun agar berkembang untuk meningkatkan ekonomi masyarakat Badui," tambah Jaro Oom.

Ekspansi Lahan dan Hasil Kerajinan

Selain menggarap tanah hak ulayat, masyarakat Badui juga memperluas jangkauan pertanian mereka hingga ke luar kawasan adat, seperti di wilayah Cileles, Gunungkencana, hingga Cirinten. Proses bercocok tanam ini dilakukan setahun sekali mengikuti kalender adat yang ketat.

Selain hasil bumi, produk kerajinan seperti kain tenun, lomar (ikat kepala), baju kampret, hingga selendang menjadi sumber pemasukan signifikan dengan harga jual berkisar antara Rp20 ribu hingga Rp750 ribu.

"Kami merasa bersyukur dari bercocok tanam dan kerajinan itu kehidupan ekonomi masyarakat relatif baik," jelasnya.

Dampak Nyata bagi Kesejahteraan

Keberhasilan ekonomi ini dirasakan langsung oleh warga, salah satunya Atim, warga Badui Luar. Ia mengungkapkan bahwa dalam lima tahun terakhir, pendapatan dari penjualan produk kerajinan meningkat cukup lumayan. Bahkan, dalam dua bulan belakangan, omzetnya mampu menembus angka Rp14 juta.

"Kami menjual produk kerajinan itu sebagian hasil kerajinan isteri dan sebagian lainnya mengambil dari perajin," kata Atim.

Kombinasi antara keteguhan menjaga tradisi pertanian dan kreativitas dalam kerajinan tangan terbukti mampu menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan keluarga masyarakat Badui hingga saat ini. (*)

Pewarta : Antara
Editor : Deasy Mayasari
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Banten just now

Welcome to TIMES Banten

TIMES Banten is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.