TIMES BANTEN, LEBAK – Masyarakat Badui di pedalaman Kabupaten Lebak, Banten, tetap teguh memegang teguh kearifan lokal sebagai amanah dari nenek moyang yang wajib dilestarikan. Hal ini ditegaskan oleh Tetua Adat sekaligus Kepala Desa Kanekes, Jaro Oom, saat menyambut para jurnalis dalam acara Kemah Budaya Wartawan rangkaian Hari Pers Nasional (HPN) 2026.
"Warga di permukiman kawasan Badui hingga kini masih mempertahankan kearifan lokal," ujar Jaro Oom di Lebak, Jumat (16/1/2025).
Kawasan Badui memiliki luas total 5.190 hektare, di mana 3.190 hektare di antaranya merupakan hutan lindung yang dijaga ketat. Sebanyak 16 ribu jiwa penduduk tersebar di 68 kampung, termasuk tiga kampung Badui Dalam. Kehidupan mereka dikenal sangat bersahaja; tinggal di rumah panggung bambu dengan atap rumbia, serta mengedepankan nilai toleransi dan saling menghormati.
Karena kesakralan adat tersebut, pengunjung diwajibkan mematuhi aturan setempat. Jaro Oom menekankan bahwa Badui sebaiknya tidak disebut sebagai "destinasi wisata", melainkan Saba Budaya atau kunjungan silaturahmi.
"Masyarakat Badui cukup keberatan jika dijadikan destinasi wisata dan lebih baik kalimat Saba Budaya untuk silaturahmi bersama masyarakat adat," jelasnya.
Ia beralasan bahwa kawasan ini tidak dirancang dengan infrastruktur modern seperti penerangan listrik atau akses jalan aspal demi menjaga keaslian budaya.
Ketahanan Pangan yang Luar Biasa
Satu hal yang menonjol dari masyarakat Badui adalah kemandirian pangan mereka. Berkat hasil panen padi gogo, warga Badui tidak pernah mengalami kelaparan. Gabah hasil panen disimpan dalam leuit (lumbung pangan) yang mampu menampung 5 hingga 10 ton. Bahkan, terdapat cadangan padi yang telah disimpan selama ratusan tahun.
"Kita hingga kini stok pangan melimpah dari hasil bercocok tanam, sehingga belum pernah warga mengalami kelaparan," tegas Jaro Oom.
Selain bertani, ekonomi masyarakat juga ditopang oleh kaum perempuan yang mahir menenun serta membuat berbagai aksesori khas seperti tas koja, lomar, dan baju kampret.
Apresiasi dari Komunitas Pers
Sekretaris PWI Banten, Fahdi Khalid, memberikan apresiasi tinggi atas konsistensi masyarakat Badui dalam menjaga nilai-nilai lokal. Kemah Budaya Wartawan ini sengaja digelar agar para jurnalis dapat mengenal lebih dalam tatanan sosial masyarakat adat.
"Kami banyak terimakasih kepada Jaro Oom sebagai tetua adat masyarakat Badui menerima kunjungan wartawan untuk bersilaturahmi sekaligus mengenal budaya Badui," kata Fahdi.
Senada dengan itu, perwakilan PWI Pusat, Kadir, merasa kagum dengan topografi alam Badui yang berbukit. Ia menyebutkan bahwa pengalaman para wartawan selama di Badui nantinya akan dibukukan sebagai bagian dari dokumentasi HPN di Serang. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: Cara Masyarakat Badui Jaga Stok Pangan Tetap Melimpah
| Pewarta | : Antara |
| Editor | : Deasy Mayasari |